RSS

Desa Sukasenang, Bayongbong, Garut

1

Desa Sukasenang merupakan salah satu desa di Kecamatan Bayongbong. Secara administratif Desa Sukasenang termasuk dalam Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Desa Sukasenang terletak di 7o14‟30”-7o15‟30” LS 107o50‟20”-107o51‟50” BT. Desa Sukasenang memiliki luas wilayah 193.5 ha dengan rincian untuk Pemukiman 8.5 ha, persawahan 183 ha, perkantoran 2.8 ha. Desa ini terbagi menjadi dalam 5 rukun warga (RW) dan 17 rukun tetangga (RT). Desa Sukasenang adalah daerah Home Industry berupa lapis legit dan daerah pertanian. Desa ini pun mendapat kepercayaan dalam bidang ketahanan pangan dan sebagai pelopor benih unggul Sarinah sebagai benih unggul lokal nasional. Sawah yang terdapat di desa tersebut mengalami musim tanam padi secara terus menerus. Penanaman dengan cara ini dilakukan karena desakan produksi yang tinggi.

DSCN8367

DSCN8164

DSCN8695

               Letak Desa Sukasenang sekitar 15 km dari kabupaten Garut. Letak desa ini berbatasan dengan Desa Mekarjaya di sebelah utara, Desa Panembong di sebelah selatan, Desa Cikedokan di sebelah barat, dan Desa Sukarame di sebelah timur. Tanah di Desa Sukasenang tersebut memiliki kesuburan yang baik.

???????????????????????????????

DSCN8362

Distribusi mata pencaharian di Desa Sukasenang yaitu sebagai petani, petani buruh, buruh/ swasta, pegawai negeri, pengrajin, dan pedagang. Rata-rata warga masyarakat di desa ini memiliki sawah untuk ditanami padi secara terus menerus. Potensi pertanian yang dimiliki adalah Mina padi dengan produktivitas padi 6.9 ton/ha dan produktivitas ikan sebesar 5 ton/tahun. Selain mina padi, potensi pertanian yang dimiliki adalah tanaman hortikultura, seperti tomat dan kubis. Varietas padi yang paling banyak ditanam petani adalah Sarinah.

Kol-2

               Pertanaman yang dilakukan di desa ini tidak memakai pestisida, sehingga produk pertanian yang dihasilkan aman dari residu pestisida. Selain tanaman hortikultura desa ini juga memiliki ternak yang cukup berpotensi adalah bebek dan ayam. Umumnya ayam yang dibudidayakan akan dipasarkan ke daerah Jawa Barat. Kotoran-kotoran serta ampas pakan ternak tersebut sering digunakan petani sebagai pupuk organik dasar yang langsung diaplikasikan ke lahan.

images

Pengairan sawah di Desa Sukasenang sebagian besar ditunjang oleh Sungai Cimanuk yang mengalir disepanjang perbatasan Desa Sukasenang. Desa Sukasenang terdiri dari enam kelompok tani, yaitu Gemah Ripah yang diketuai oleh Bapak Nanang Subarnas, Sugih Mukti, Purnama, Tunas Citra. Gabungan kelompok tani Gemah Ripah mendapat penghargaan tingkat nasional.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci Kuliah Kerja Profesi

 

Penunasan pada Kelapa Sawit

Pemeliharaan tanaman dilakukan pada saat tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam pemeliharaan tanaman baik TBM dan TM yaitu: konsolidasi, pemeliharaan jalan, benteng, teras, parit, penyisipan tanaman, pengendalian gulma, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, kastrasi serta penunasan pelepah.

Penunasan merupakan kegiatan pembuangan daun – daun tua yangtidak produktif pada tanaman kelapa sawit. Penunasan biasa juga disebut dengan pemangkasan. Pemangkasan bertujuan untuk memperbaiki udara di sekitar tanaman, mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan,dan memudahkan pada saat kegiatan pemanenan dilakukan. Suyatno (1994) menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit yang berumur 3 – 8 tahun memiliki jumlah pelepah optimal sekitar 48 – 56 pelepah, sedangkan yang berumur lebihdari 8 tahun jumlah pelepah optimalnya sekitar 40 – 48 pelepah. Tanaman belum menghasilkan juga dilakukan kegiatan penunasan( pruning ). Kegiatan penunasan pada TBM disebut juga dengan penunasan pasir,yaitu memotong pelepah-pelepah kosong pada tanaman kelapa sawit. Sanitasi ini bertujuan untuk mempermudah pemeliharaan dan mengefektifkan pemanfaatanunsur hara.

Tanaman menghasilkan kelapa sawit dilakukan penunasan, hal ini memiliki banyak manfaat, antara lain sanitasitanaman, memudahkan panen, menghindari tersangkutnya brondolan di pelepah,memperlancar penyerbukan alami, memudahkan pengamatan buah, dan efisiensi distribusi fotosintat untuk pembungaan dan pembuahan.Kegiatan penunasan membutuhkan alat bantu. Penunasan dapat dilakukandengan alat dondos ‘dodos’ (cnisel ) pada tanaman yang masih pendek, sedangkan pada tanaman yang sudah tinggi menggunakan alat yang disebut dengan egrek.

Prinsip kerja penunasan adalah memotong pelepah daun yang terbawah. Pemotongan pelepah menggunakan alat yang disebut egrek (gambar terlampir). Cara pemotongannya adalah memotong  pelepah daun terbawah dengan meninggalkan bagian pangkal pelepah sepanjang 2 – 3 cm atau selebar tandan buah sawit. Pelepah daun juga dapat dipotong rapat ke batang atau dengan berkas daun potongan berbentuk tapal kuda yang membentuk sudut 3o terhadap garis horizontal. Pelepah yang telah dipotong dikumpulkan dan disusun digawangan mati, terutama pada areal datar atau pelepah daun yang telah ditunas dipotong menjadi tiga bagian dan diletakkan teratur membentuk gundukan padagawangan mati. Umumnya penunasan dilakukan dengan menggunakan norma “songgo dua”.  Sanitasi berupa penunasan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 tahun dengan rotasi dua kali dalam setahun.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci ilmu Tanaman Perkebunan

 

Pengertian Pasar Pikul

Pasar pikul

Pasar pikul merupakan jalan yang digunakan untuk mengantarkan buahsawit yang sudah dipanen ke Tempat Pemungutan Hasil (TPH) serta untuk memudahkan kegiatan pemeliharaaan lainnya. Fungsi pasar pikul tersebutmendorong untuk dilakukannya kegiatan pemeliharaan agar pasar pikul tetap berada dalam kondisi baik dan siap pakai. . Kegiatan pemeliharaan yang harusdilakuakan adalah membersihkan vegetasi/gulma yang berada di areal pasar pikul baik secara manual maupun secara kimia.

Pemeliharaan umunya dilakukan dalamempat rotasi selama satu tahun, tiga rotasi dengan manual yaitu satu kali setiap tiga bulan dan satu rotasi dengan kimia.Pasar pikul dapat dibuat dalam beberapa sistem, salah satunya dengansistem 2 : 1. Sastrosayono (2003) menjelaskan bahwa pembuatan pasar pikulsistem 2 : 1 adalah dari 2 gawangan terdapat 1 pasar pikul dengan uraian 1sebagai pasar pikul dan satu lagi sebagai gawangan mati, lebar pasar pikul antara1 – 1,5 mendongkel seluruh anak kayu dan keladi – keladi yang tumbuhdigawangan, membabat gulma yang digawangan dan membabat tidak boleh bersamaan waktu dengan dongkel anak kayu. Kegiatan dongkel anak kayu dilakukan untuk mencegah persaingan penyerapan unsur hara antara tanaman intidengan gulma pengganggu. Dalam kegiatan mendongkel diharuskan akar benar- benar terangkat agar mati.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci ilmu Tanaman Perkebunan

 

Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) Kelapa Sawit

Tempat Pengumpulan Hasil (TPH)

Tempat pengumpulan hasil ( TPH ) yaitu: Tempat yang di gunakan untuk meletakkan & menyusun buah hasil dari pemanenan. Biasanya dalam 3 pasar pikul terdapat 1 TPH yang letaknnya di depan jalur pokok yang berada di pinggir jalan koleksi. Tujuan dari pembuatan TPH yaitu:

Ø   Memudahkan dalam perhitungan jumlah janjang yang telah di panen.

Ø   Mempermudah dalam proses pengangkutan buah.

Dalam pembuatan TPH dalam suatu blok dilakukan ketika tanaman akan memasuki masa produksi. Pembuatan TPH dilakukan dengan cara : Meratakan tanah yang akan di buat TPH, bentuk dari TPH yaitu: persegi panjang dengan ukuran panjang 4 m & lebar 2m.

Piringan

Piringan merupakan daerah yang berada di sekitar pokok kelapa sawit yang berbentuk lingkaran dengan diameter ± 4 m. Pada setiap pokok kelapa sawit harus di beri piringan dengan tujuan :

Ø Memudahkan dalam proses pemanenan.

Ø Memudahkan dalam pengutipan brondolan & perawatan tanaman.

Ø Mencegah terjadinya Hama & Penyakit pada tanaman.

Dalam pembuatan piringan biasanya dilakukan secara manual terlebih dahulu setelah itu dilakukan secara chemis. Dengan manual biasanya untuk membentuk piringan pada pokok sesuai dengan diameter yang di tentukan,dengan membabat gulma yang tumbuh di sekitar piringan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci ilmu Tanaman Perkebunan

 

Morfologi Bunga-Buah dan Taksasi Produksi Kelapa Sawit

    Tanaman kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu atau monoecious di mana bunga jantan dan betina berada dalam satu pohon. Tandan bunga terletak terpisah dan keluar dari ketiak pelepah daun. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat terbungkus oleh seludang bunga. Umumnya tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang menyerbuk silang. Artinya, bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaraan angin dan atau serangga penyerbuk. Buah sawit disebut juga fructus. Waktu yang diperlukan mulai dari penyerbukan sampai dengan buah matang siap dipanen kurang lebih 5 – 6 bulan. Buah kelapa sawit tersusun dari kulit buah yang licin dan keras (epicrap), daging buah (mesocrap) dari susunan serabut (fibre) dan mengandung minyak, kulit biji (endocrap) atau cangkang atau tempurung yang berwarna hitam dan keras, daging biji (endosperm) yang berwarna putih dan mengandung minyak, serta lembaga (embryo).

       Lembaga (embryo) yang keluar dari kulit biji akan berkembang ke dua arah. Pertama arah tegak lurus ke atas (fototropy), disebut dengan plumula yang selanjutnya akan menjadi batang dan daun. Kedua arah tegak lurus ke bawah (geotrophy) disebut dengan radicula yang selanjutnya akan menjadi akar. Plumula tidak keluar sebelum radikula tumbuh sekitar 1 cm. Akar-akar adventif  pertama muncul di sebuah ring di atas sambungan radikula-hipokotil dan seterusnya membentuk akar-akar sekunder sebelum daun pertama muncul. Bibit kelapa sawit memerlukan waktu 3 bulan untuk memantapkan dirinya sebagai organisme yang mampu melakukan fotosintesis dan menyerap makanan dari dalam tanah.   

      Taksasi produksi atau angka kerapatan panen adalah kegiatan menghitung jumlah tandan buah segar yang akan diperoleh pada waktu panen berdasarkan jumlah dan keadaan tandan bunga betina yang memungkinkan menjadi tandan buah. Berat rata-rata tandan buah sesuai dengan umur tanaman dan jenisnya. Tujuan kegiatan taksasi ini adalah untuk memudahkan pengaturan dan pelaksanaan pengerjaan panen di kebun serta pengolahan di pabrik, mengetahui jumlah tenaga pemanen yang dibutuhkan untuk menyelesaikan panen pada luasan tertentu, memudahkan penyediaan dan pengaturan transportasi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci ilmu Tanaman Perkebunan

 

Pemeliharaan TM Kelapa

Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan tanaman perkebunan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Seluruh bagian pohon kelapa mempunyai manfaat untuk kehidupan manusia, sehingga pohon ini sering disebut pohon kehidupan (tree of life). Hampir seluruh bagian kelapa dapat digunakan untuk kebutuhan kehidupan manusia, mulai dari pohon, akar, batang, daun, dan buahnya. Tanaman kelapa membutuhkan lingkungan hidup yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksinya. Faktor lingkungan itu adalah sinar matahari, temperature, curah hujan, kelembapan, keadaan tanah dan kecepatan angin. Di samping itu, iklim merupakan faktor penting yang ikut menentukan pertumbuhan tanaman kelapa.  Pemeliharaan tanaman bertujuan untuk mengkondisiskan tanaman agar sehat, memiliki pertumbuhan yang normal dan mencapai tingkat produktivitas yang optimal. Fase pemeliharaan tahunan digolongkan menjadi pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Pada fase TBM, pemeliharaan kelapa diarahkan bagi pertumbuhan tanaman yang normal serta secepat mungkin memasuki fase TM. Pada fase TM, pemeliharaan kelap diarahkan bagi pencapaian produktivitas yang optimal sesuai dengan potensi produksinya dan diusahakan agar memiliki masa umur ekonomi yang panjang. Kegiatan pemeliharaan tidak hanya dilakukan pada tanaman pokok (kelapa) melainkan juga pada areal di sekitar tanaman (gawangan).

Kegiatan pemeliharaan kelapa meliputi: pengendalian gulma, sanitasi tanaman, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Kegiatan pengendalian gulma meliputi : pembentukan dan pemeliharaan bokoran atau kondisi W0 dan pemeliharaan gawangan atau kondisi W1 atau W2. Kegiatan sanitasi meliputi pembersihan kelapa dari pelepah tua dan tandan buah kering, serta mengumpulkan sisa-sisa tanaman dan sampah organic pada gawangan mati. Kegiatan pemupukan harus memperhatikan jenis pupuk, dosis pupuk, waktu memupuk, tempat, dan cara memupuk.  Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci ilmu Tanaman Perkebunan

 

Eco-Farm Fapet IPB

Susu Fapet adalah merek dagang resmi dari produk-produk yang dikeluarkan oleh PT. D-Farm Agriprima. PT D-Farm Agriprima merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan hasil ternak khususnya pengolahan susu. Perusahaan ini berlokasi di Unit Lapang Fakultas Peternakan IPB. Perusahaan ini mengelola fasilitas pengolahan susu yang dimiliki Fakultas Peternakan IPB dan menggunakan teknologi dari Fakultas Peternakan IPB. Selain sebagai unit komersil, unit pengolahan susu Fapet IPB juga sebagai unit pendidikan yaitu sebagai teaching industri. Unit Pengolahan Susu merupakan unit teaching industry dibawah bagian Teknologi Hasil Ternak yang memiliki kegiatan pelayanan praktikum, penelitian, kunjungan, pelatihan dan pendampingan. Unit ini bekerjasama dengan PT D-Farm Agriprima sebagai operator pelaksana teknis di Unit Pengolahan Susu untuk melakukan proses produksi dan pemasaran.

foto0287

foto0285Awal mula berdirinya EcoFarm bermula dari Fakultas Peternakan IPB mengadakan kerja sama dengan Departemen Pertanian dalam upaya memacu  usaha peternakan khususnya sapi perah. Fakultas peternakan bertanggung jawab atas terlaksananya usaha ini kepada Deptan. Dalam rangka menjalankan usaha ini, Dekan Fakultas Peternakan menunjuk seorang penanggung jawab langsung E-coFarm untuk bisa menjalankan usaha ini dengan baik. Penanggung jawab E-coFarm dibantu oleh seorang manager yang berfungsi untuk menggerakan beberapa divisi yaitu: divisi produksi, divisi pengolahan, divisi pakan, dan divisi pemasaran.

Berbagai potensi yang dimiliki, seperti ketersediaan bahan baku dan sumberdaya peternak (tenaga kerja), E-coFarm memiliki peluang untuk menjadi salah satu sentra pengolahan susu sapi bukan hanya di lingkungan kampus IPB tetapi juga di daerah Bogor. E-coFarm bertindak sebagai lembaga pendidikan yang memiliki kompetensi peternakan dalam bidang pengembangan sapi perah dan produksi susu segar serta hasil olahannya.E-coFarm saat ini menjual susu segar dan produk olahannya. Produk hasil pengolahan yang dilakukan oleh E-coFarm adalah susu pasteurisasi, yoghurt dan puding. Susu pasteurisasi terdiri dari susu pasteurisasi rasa yang dikemas dengan cup 200 ml dan plastik 500 ml dan 100 ml serta susu pasteurisasi plain yang dikemas dengan plasik 100 ml, 500 ml dan 1000 ml. Yoghurt yang dihasilkan diantaranya yoghurt cup 100 ml dan yoghurt stik 50 ml dan 30 ml. Sedangkan puding dikemas dengan cup 100 ml. Produk susu pasteurisasi, bio yoghurt, serta puding susu adalah produk reguler yang biasa tersedia di outlet setiap hari.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci Susu Fapet

 

Subsistem Budidaya Kelapa Sawit

SUBSISTEM BUDI DAYA

 

Budi daya kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terdiri dari pembukaan lahan, pembibitan, pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit. Teknik pembukaan lahan terdiri dari cara mekanis, kimia, pemasangan ajir, pembuatan lubang tanam, dan penanaman tanaman penutup tanah. Selain itu, pembukaan lahan perlu melakukan perencanaan tata ruang dan tata letak lahan, meliputi topografi, iklim, status dan tata guna lahan, tanah, dan jaringan jalan. Pembukaan lahan secara mekanis dilakukan dengan menggunakan traktor. Hal ini bertujuan untuk menumbangkan tunggul-tunggul kayu. Akan tetapi, bila lahan memiliki kemiringan lebih dari 18% maka lahan tidak ditraktor karena akan menimbulkan erosi ketika hujan. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase (beririgasi) baik dan memiliki lapisan solum cukup dalam (80 cm) tanpa lapisan padas. Kemiringan lahan pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15% (Kiswanto 2008). Pembukaan lahan secara kimia biasanya menggunakan bahan kimia. Bahan kimia yang umum dipakai adalah bahan yang bersifat sistemik, seperti bustofan, glyphosate, dowpon, dan dalapon (Zaenal 2012). Selanjutnya dilakukan pengajiran, ajir adalah kayu atau bambu yang ditancapkan ditempat-tempat yang akan ditanami tanaman kelapa sawit. Ajir ini sebagai tanda bagi kontraktor atau buruh untuk membuat lubang tanam. Pembuatan lubang tanam minimal dua minggu sebelum tanam agar mudah diperiksa jumlah maupun ukurannya, tanah cukup matang, dan tidak terburu-buru waktu tanam. dua minggu sebelum tanam agar mudah diperiksa jumlah maupun ukurannya, tanah cukup matang, dan tidak terburu-buru waktu tanam. Tanaman penutup tanah bermanfaat sebagai penghindar tanah dari bahaya erosi, guguran daun dan bintil akarnya bisa memberi tambahan unsur Nitrogen (N) pada tanah dan sebagai bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah, menekan pertumbuhan alang-alang dan gulma lain, dapat menghisap banyak air agar pada lokasi rendah tanahnya kering.

Teknik budi daya setelah melakukan pembukaan lahan adalah melakukan pembibitan. Bibit merupakan bahan tanaman yang siap untuk ditanam di lapangan. Pembibitan merupakan cara atau usaha yang dilakukan untuk mengecambahkan bahan tanaman agar menjadi bibit yang bermutu dan berkualitas serta siap untuk ditanam (Lubis 2008). Pembibitan bertujuan untuk menghasilkan bibit berkualitas tinggi yang harus tersedia pada saat penyiapan lahan tanam telah selesai. Pembibtan dilakukan karena berbagai alasan, yaitu 1). keadaan kecambah kelapa sawit yang mudah diserang insekta,  2). Bahan tanaman memerlukan ketegakan habitusnya sehingga tidak roboh. 3). Memperpendek umur antara persiapan di lapang dan penanaman pertama (Pahan 2008). Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan areal pembibitan yakni : 1). Dekat dari sumber air, tersedia air sepanjang tahun namun tidak kebanjiran waktu musim hujan, 2). Dekat dari pengawasan dan mudah untuk dikunjungi, 3). Tidak jauh dari areal yang akan ditanami jika mungkin ditengah lokasi untung mengurangi biaya pengangkutan. Pembibitan secara tidak langsung terbagi antara pre nursery dan main nursery. Pre nursery atau pembibitan awal mempunyai ciri-ciri penggunaan kantong plastik berukuran kecil, sehingga jumlah bibit per ha areal pembibitan menjadi banyak. Untuk areal pembibitan dipilih lahan yang rata dan datar (tidak miring), berdrainase lancar, dekat sumber air, tetapi tidak rawan banjir (Mangoensoekarjo 2008). Kecerobohan dalam kegiatan Pre nursery dapat menyebabkan kecambah mati atau tidak tumbuh. Pembibitan utama (Main nursery) bibit dari pembibitan awal dipindahkan ke kantong pelastik yang lebih besar berukuran 40 x 50 cm pada umur sekitar empat bulan.

Pemupukan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan namun jika pemberian berlebihan akan berpengaruh menekan pertumbuhan. Bibit kelapa sawit sangat cepat pertumbuhannya dan membutuhkan banyak pupuk. Pemberian pupuk majemuk dan urea dalam bentuk larutan setelah semai berumur 1 bulan dengan interval waktu setiap minggu. Pengendalian gulma bisa dilakukan baik pada pembibitan awal maupun pembibitan utama.  Pengendaliannya dapat dilakukan dengan manual dengan tangan yakni mencabut gulma pada kantong plastik sekali dalam dua minggu atau dengan kored dan garu untuk wilayah di sekitar kantong bibit dengan siklus 2-3 minggu. Apabila dengan cara kimia bisa menggunakan herbisida ametrin, simazin, dan diuron 2 – 2,5 kg dilarutkan dalam 500 liter air untuk 1ha. Untuk mendapatkan bibit yang sehat dan prima pengendalian hama dan penyakit sangat penting. Dalam pelaksanaannya diperlukan pengenalan yang baik, tanda serangan awal, tindakan preventif yang akan diambil dan tindak lanjut. Pemindahan bibit ke lapangan sangat dipengaruhi kesehatan bibit di pembibitan. Hanya bibit yang sehat yang dipindahkan (alih tanam) agar bisa tumbuh dan beradaptasi dengan baik. Kegiatan selanjutnya adalah panen. Panen dilakukan dengan mengambil buah dari pokok pada tingkat kematangan yang sesuai dan mengantarkannya ke pabrik dengan cara dan waktu yang tepat.

Iyung Pahan. 2008. Kelapa Sawit Manajemen Hulu sampai Hilir. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Kiswanto. 2008. Teknologi Budi daya Kelapa Sawit Seri 11. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan                    Pertanian. Lampung (ID). 101 hal.

Lubis A.U. 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia Edisi 2. Pusat Penelitian Perkebunan              Marihat. Sumatera Selatan (ID). 435 hal.

Mangoensoekarjo, S. dan H. Semangun. 2008. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Yogyakarta (ID): UGM            Press.  

Zaenal. 2010. Pengelolaan pembibitan kelapa sawit dengan aspek khusus seleksi bibit di pusat penelitian                kelapa sawit (PPKS), unit usaha Marihat, Sumatera Utara [Skrip]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci Subsistem Budidaya

 

Tanaman Penutup Tanah atau Legum Cover Crop (LCC)

Tanaman Penutup Tanah yang juga dikenal dengan Legum Cover Crop ( LCC ) adalah tanaman yang khusus ditanam untuk memperbaiki struktur tanah yaitu dengan memperbaiki sifat fisika dan sifat kimia tanah sehingga dapat mengembalikan kesuburan tanah. Hal ini dapat tejadi karena tanaman ini mengadakan simbiosis dengan bakteri pengikat Nitrogen, sehingga ketersediaaan nitrogen dalam tanah menjadi meningkat. Jadi, tanaman ini ditanam dengan tujuan memperbaiki struktur tanah agar kesuburannya kembali meningkat sehingga siap untuk ditanamai kembali dengan tanaman utama. Mengingat tujuan penanaman LCC adalah memperbaiki struktur tanah agar dapat ditanami kembali, maka tanaman LCC harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :

1.Perakaran tidak mengganggu tanaman utama

Dalam hal ini, akar dari tanaman LCC haruslah akar yang mudah dicabut, sehingga tidak meninggalkan sisa akar di tanah yang dapat mengganggu tanaman utama.

2.Mudah diperbanyak secara vegetatif maupun generatif dan cepat tumbuh

Dengan adanya kemudahan perbanyakan tanaman ini, semakin banyak tanaman LCC yang tumbuh sehingga semakin cepat kesuburan diperoleh dan semakin luas lahan yang bisa diperbaiki strukturnya dalam waktu singkat.

3.Tahan terhadap kekeringan, naungan, hama dan penyakit

Ketahanan tanaman ini terhadap berbagai gangguan membuat tanaman ini tidak mudah mati, sehingga proses peningkatan kesuburan tanah pun tidak terganggu.

4.Memiliki potensi dalam memberikan bahan organik yang tinggi

Potensi yang dimaksud adalah kemampuan tanaman ini dalam mengikat zat-zat dalam tanah untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Tanaman yang memenuhi syarat-syarat diatas adalah tanaman dari suku Leguminosae atau biasa dikenal dengan tanaman kacanag-kacangan. Akar dari tanaman ini adalah akr serabut, sehingga mudah dicabut dan tidak mengganggu perakaran tanaman utama nantinya. Selain itu, tanaman jenis ini mudah diperbanyak , mudah tumbuh dan juga cepat tumbuh. Tanaman jenis ini juga memikliki ketahanan terhadap berbagai gangguan, serta memiliki potensi untuk memberi bahan organik terhadap tanah karena dapat mengikat nitrogen dari udara bebas.

B. Jenis – jenis Tanaman LCC

Sesuai dengan namanya yaitu Legum Cover Crop, maka yang termasuk tanaman ini berasal dari jenis Leguminosae atau tanaman kacang – kacangan. Tanaman dari jenis ini memiliki kemampuan mengikat nitrogen dari udara bebas, karena mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium dengan cara menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar. Rhizobium tersebut akan memfiksasi nitrogen dari udara sehingga menambah ketersediaan nitrogen di dalam tanah.

Adapun jenis – jenis tanaman penutup tanah dibagi menjadi 2 tipe yaitu Menjalar dan Pelindung perdu. Jenis LCC untuk masing – masing tipe yaitu :

1.Menjalar, terdiri dari :

  • Centrosema pubescens ( CP )
  • Pueraria javanica ( PJ )
  • Calopogonium mucunoides ( CM )
  • Psopocarphus polustris ( PP )
  • Calopogonium caeruleum ( CC )
  • Desmodium ovalifolium ( DO )
  • Mucuna conchinchinensis ( MC )
  • Pueraria phascoloides ( PP )

2.Pelindung perdu, yaitu :

  • Flemingia congesta
  • Crotalaria anagyroides
  • Tephrosia vogelii
  • Caliandra callothyrsus ( putih )
  • Caliandra tetragona ( merah )

Penanaman LCC secara bersamaan dari berbagai jenis lebih menguntungkan daripada hanya satu jenis saja.

C.Peranan LCC Dalam Pertanian

Dalam dunia pertanian, LCC memberi peranan dalam meningkatkan kesuburan tanah. Peranan yang diberikan LCC dalam bidang pertanian cukup penting untuk mencapai pertanian yang berhasil. Dengan adanya LCC, maka dapat diciptakan kondisi tanah yang siap untuk ditanami dan memnuhi unsur – unsur yang dibutuhkan tanaman utama.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, fungsi LCC adalah meningkatkan kesuburan tanah, maka dalam hal meningkatkan kesuburan tanah peranan LCC dalam bidang pertanian sebagai berikut :

1.Meningkatkan persediaan nitrogen dalam tanah

Tanaman LCC mampu meningkatkan persediaan nitrogen dalam tanah karena tanaman ini bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium yang dapat memfiksasi nitrogen langsung dari udara bebas.

2.Menggantikan fungsi pupuk

Tanaman LCC dan pupuk bersifat memberi kesuburan pada tanah. Dengan ditanamnya LCC, maka petani tidak perlu memberi pupuk untuk mengembalikan kesuburan tanah sebelum ditanami tanaman utama dan tanaman ini dapat menjadi pupuk organik.

3.Mengurangi pencucian unsur hara

Dengan ditanamnya tanaman LCC, maka lahan yang belum ditanami tanaman utama tidak kosong, sehingga ketika hujan turun, unsur – unsur hara yang masih tersisa dalam tanah tidak mengalami pencucian oleh aliran air hujan.

4.Menekan pertumbuhan gulma

Dengan adanya tanaman LCC, tanah akan tertutup dan akan menghalangi masuknya sinar matahari sehingga gulma tidak dapat bertumbuh.

5.Menciptakan habitat baru bagi musuh alami terhadap hama.

Keberadaan tanaman LCC dapat menjadi tempat hidup bagi musuh alami hama yang menyerang tanaman utama. Dengan demikian petani dapat mengurangi penggunaan pestisida.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci Teknik Budidaya Tanaman

 

Penyelamatan Embrio Tanaman Hasil Fertilisasi

Kultur embrio adalah isolasi steril dari embrio muda  atau embrio dewasa/tua  secara invitro dengan tujuan untuk memperoleh tanaman yang lengkap. Masalah yang dihadapi oleh embrio meliputi masalah eksternal yaitu, tidak tersedianya cadangan makanan di lingkungannya, dan masalah internal yaitu, masalah yang terdapat di dalam genetik embrio itu sendiri, yang memungkinkan adanya penurunan terhadap individu baru. Masalah internal tersebut, dapat disebabkan karena, polen tidak bisa berkecambah, polen mampu berkecambah namun tabungnya tidak berkembang, terdapat taburkecambang, polen berkecambah namun tidak mampu brfertilisasi, polen dan tabung ada, terjadi fertilisasi namun embrio gagal (gugur), berkembang namun perkembangannya tidak sehat. Untuk menanggulangi masalah ini maka dilakukan fertilisasi dengan cara invitro bila ovary embryo tidak berkembang, atau dengan menyelamatkan embryo yang telah terbentuk dari ovary atau buah yang masih muda.

Embrio resque berbeda dengan embrio culture. Perbedaan tersebut terlihat, bila embrio resque adalah kultur embrio yang belum matanguntuk mencegah keguguran. Sedangkan embrio culture adalah kultur embrio matang, utk merangsang perkecambahan. Tujuan dari penyelamatan embrio adalah memperpendek siklus pemuliaan tanaman. Dormansi biji dapat menghambat program pemuliaan tanaman. Pemecahan dormansi dengan kultur embrio (embryo culture) merupakan salah satu upaya untuk mempercepat perkecambahan biji hasil pemuliaan tanaman sehingga bisa mempercepat proses pemuliaan tanaman, mencegah gugurnya buah (embrio) pada buah, mencegah kehilangan biji setelah persilangan. Sebelum proses penyelamatan embrio dilakukan pelepasan kulit luar biji tempat melekat embrio. Dalam perbanyakan semakin sedikit jumlah sel maka semakin sulit untuk ditumbuhkan.

Pengamatan embrio kacang merah, jumlah embrio yang steril pada media MS0 saat 1 MST 3,818 dan pada media MS51 sebesar 6,364. Pada 2 MST terlihat di media MS0 sebesar 4,273 dan media MS51 sebesar 6,091. Hasil yang terlihat baik pada media MS0 maupun media MS51, terlihat bahwa jumlah embrio steril setiap minggu menurun sampai 8MST. Pada hasil jumlah embrio yang mati setiap minggunya meningkat, baik pada media MS0 maupun media MS51. Presentase embrio yang berkecambah saat 1 MST 46,67% media MS0, dan media MS51 sebesar 9,091%. Pada 2 MST persentase embrio yang berkecambah setiap minggu sampai 3 MST. Pada 4 MST sampai 8 MST, persentase berkecambah semakin menurun di media MS0. Hal ini disebabkan adanya planlet yang kontam pada beberapa ulangan. Berbeda dengan hasil sebelumnya, pada jumlah embrio yang terbentuk kalus terlihat bahwa pada media MS51 pada 1 MST sampai 8 MST lebih besar dari media MS0. Jenis kalus yang dihasilkan pada media MS0 dan MS51 yaitu biasa dengan warna kalus coklat. Media yang kontam terlihat serbuk berwarna hitam. Hal ini karena terdapat jamur. Nilai rata-rata persentase berkecambah embrio kacang merah yang di atas 50% pada media MS0 dapat dikatakan praktikum penyelamatan embrio kacang merah berhasil.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 inci Dasar Bioteknologi Tanaman

 
 
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai