RSS

Penyelamatan Embrio Tanaman Hasil Fertilisasi

22 Sep

Kultur embrio adalah isolasi steril dari embrio muda  atau embrio dewasa/tua  secara invitro dengan tujuan untuk memperoleh tanaman yang lengkap. Masalah yang dihadapi oleh embrio meliputi masalah eksternal yaitu, tidak tersedianya cadangan makanan di lingkungannya, dan masalah internal yaitu, masalah yang terdapat di dalam genetik embrio itu sendiri, yang memungkinkan adanya penurunan terhadap individu baru. Masalah internal tersebut, dapat disebabkan karena, polen tidak bisa berkecambah, polen mampu berkecambah namun tabungnya tidak berkembang, terdapat taburkecambang, polen berkecambah namun tidak mampu brfertilisasi, polen dan tabung ada, terjadi fertilisasi namun embrio gagal (gugur), berkembang namun perkembangannya tidak sehat. Untuk menanggulangi masalah ini maka dilakukan fertilisasi dengan cara invitro bila ovary embryo tidak berkembang, atau dengan menyelamatkan embryo yang telah terbentuk dari ovary atau buah yang masih muda.

Embrio resque berbeda dengan embrio culture. Perbedaan tersebut terlihat, bila embrio resque adalah kultur embrio yang belum matanguntuk mencegah keguguran. Sedangkan embrio culture adalah kultur embrio matang, utk merangsang perkecambahan. Tujuan dari penyelamatan embrio adalah memperpendek siklus pemuliaan tanaman. Dormansi biji dapat menghambat program pemuliaan tanaman. Pemecahan dormansi dengan kultur embrio (embryo culture) merupakan salah satu upaya untuk mempercepat perkecambahan biji hasil pemuliaan tanaman sehingga bisa mempercepat proses pemuliaan tanaman, mencegah gugurnya buah (embrio) pada buah, mencegah kehilangan biji setelah persilangan. Sebelum proses penyelamatan embrio dilakukan pelepasan kulit luar biji tempat melekat embrio. Dalam perbanyakan semakin sedikit jumlah sel maka semakin sulit untuk ditumbuhkan.

Pengamatan embrio kacang merah, jumlah embrio yang steril pada media MS0 saat 1 MST 3,818 dan pada media MS51 sebesar 6,364. Pada 2 MST terlihat di media MS0 sebesar 4,273 dan media MS51 sebesar 6,091. Hasil yang terlihat baik pada media MS0 maupun media MS51, terlihat bahwa jumlah embrio steril setiap minggu menurun sampai 8MST. Pada hasil jumlah embrio yang mati setiap minggunya meningkat, baik pada media MS0 maupun media MS51. Presentase embrio yang berkecambah saat 1 MST 46,67% media MS0, dan media MS51 sebesar 9,091%. Pada 2 MST persentase embrio yang berkecambah setiap minggu sampai 3 MST. Pada 4 MST sampai 8 MST, persentase berkecambah semakin menurun di media MS0. Hal ini disebabkan adanya planlet yang kontam pada beberapa ulangan. Berbeda dengan hasil sebelumnya, pada jumlah embrio yang terbentuk kalus terlihat bahwa pada media MS51 pada 1 MST sampai 8 MST lebih besar dari media MS0. Jenis kalus yang dihasilkan pada media MS0 dan MS51 yaitu biasa dengan warna kalus coklat. Media yang kontam terlihat serbuk berwarna hitam. Hal ini karena terdapat jamur. Nilai rata-rata persentase berkecambah embrio kacang merah yang di atas 50% pada media MS0 dapat dikatakan praktikum penyelamatan embrio kacang merah berhasil.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 in Dasar Bioteknologi Tanaman

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: