RSS

Potensi Produksi 5 varietas Kedelai dengan Dua Jarak Tanam

22 Sep

Kedelai di Indonesia mulai dilaporkan pada abad ke-17. Pada waktu itu kedelai dibudidayakan sebagai tanaman makanan dan pupuk hijau. Sampai saat ini di Indonesia kedelai banyak ditanam di dataran rendah yang tidak mengandung air.

Pemanfaatan kedelai sebagai bahan makanan tidak langsung masak, melainkan diolah terlebih dahulu menjadi tempe, tahu, kecap, tauco dan tauge. Di era industrialisasi saat ini kedelai sudah diolah menjadi bahan makanan susu kedelai yang dikemas lebih rapi. Kedelai juga merupakan tanaman perdagangan, hingga saat ini produsen terbesar di dunia adalah Amerika dengan jumlah 20 juta ton per tahun.

Tanaman kedelai (Glicyne max) merupakan sumber protein yang besar artinya untuk kesehatan dan manusia terutama bagi negara-negara yang konsumsi protein hewaninya masih rendah.

Bila dibanding dengan produksi kedelai Amerika yang mencapai 18 kuintal per ha, produksi kedelai yang dihasilkan petani Indonesia masih rendah, yaitu 6-7 kuintal/ha. Padahal kebutuhan masyarakat akan kedelai semakin tinggi. Menurut Andrianto dan Indarto (2004) beberapa faktor yang menyebabkan produksi kedelai Indonesia rendah adalah cara bercocok tanam dan pemeliharan kurang intensif, mutu benih kurang baik dan daya tumbuh rendha, varietas lokal yang digunakan tidak mempunyai daya produksi tinggi, suatu areal yang sempit sering ditanami beberapa varietas kedelai yang berbeda,b dan pencegahan hama belum intensif.  

Pada penanaman kedelai penggunaan jarak tanam yang tepat dapat berpengaruh pada output yang dihasilkan. Penentuan jarak tanaman tergantung pada daya tumbuh benih, kesuburan tanah, musim dan varietas yang ditanam. Benih yang daya tumbuhnya agak rendah perlu ditanam  dengan jarak tanm yang lebih rapat. Pada tanah yang subur, jarak tanam yang agak renggang lebih menguntungkan. Varietas yang banyak bercabang, jarak tanam yang lebih renggang akan menyebabkan hasil lebih baik. Pada tanah yang tandus atau varietas yang batangnya tidak bercabang, lebih sesuai digunakan dengan jarak tanam yang agak rapat.

Keuntungan menggunakan jarak tanam antara lain : (a) sebagai benih yang tidak tumbuh atau tanaman muda yang mati dapat terkompensasi, sehingga tanaman tidak langsung jarang, (b) permukaan tanah dapat segera tertutup sehingga pertumbuhan gulma dapat ditekan, dan (c) jumlah tanaman yang tinggi diharapkan dapat memberikan hasil yang tinggi pula.

Sebaliknya jarak tanam yang terlalu rapat mempunyai beberapa kerugian yakni : (a) polong per tanaman menjadi sangat berkurang sehingga hasil per hektarnya menjadi rendah, (b) ruas batang tumbuh lebih panjang sehingga tanaman kurang kokoh dan mudah roboh, (c) benih yang dibutuhkan lebih banyak dan (d) penyiangan sukar dilakukan (Suprapto, 1988).

 

Tujuan

            Mempelajari keragaan dan produksi 5 varietas kedelai dengan dua jarak tanam yang ditanam di Bogor.

 Tanaman kedelai dapat mengikat nitrogen (N2) di atmosfer melaluiaktivitas bekteri pengikat nitrogen, yaitu Rhizobium japonicum. Bakteri initerbentuk di dalam akar tanaman yang diberi nama nodul atau bintil akar.Keberadaan Rhizobium japonicum di dalam tanah memang sudah adakarena tanah tersebut ditanami kedelai atau memang sengajaditambahkan ke dalam tanah.Nodul atau bintil akar tanaman kedelai umumnya dapat mengikat nitrogen dari udara pada umur 10 – 12 harisetelah tanam, tergantung kondisi lingkungan tanah dan suhu.

Hasil produksi tanaman kedelai sangat tergantung kepada kondisi benih, varietas dan teknik budidaya tanaman. Untuk mendapatkan hasil yang tinggi, benih yangdigunakan perlu memenuhi persyaratandaya kecambah tinggi (di atas 80%); murni atau tidak tercampur dengan varietas lain, bersih atau tidak tercampur biji-bijian tanamanlain dan kotoran; bersih, tidak keriput, dan tidak luka/tergores; baru, umur benih tidak lebih dari 6 bulan sejakdipanen; semakin baru benih, semakin baik mutunya, jumlah benih yang diperlukan untuk setiap hektar lahan adalah 40-45 kg (Suastika 1997).

Pertanaman kedelai menggunakan 5 varietas yang masing-masing menggunakan 2 jarak tanam yaitu single row (25 cm x 20 cm) dengan 2 biji per lubang dan jarak tanam ganda double row (20 cm x 12,5 cmx 50 cm) 2 biji per lubang. Luas lahan yang digunakan adalah 4m x 5m.

Gulma merupakan tumbuhan yang berasal dari spesies liar yang telah lama menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, atau spesies baru yang telah berkembang sejak timbulnya pertanian Gulma yang dominan pada lahan kedelai pada jarak tanam single row maupun double row adalah Cleome rutidosperma dan Portulacca oleraceae. Hal lain yang mempengaruhi perbedaan morfologi dan biomass tanaman adalah faktor pengganggu tanaman yaitu gulma, dimana pada sistem tanam double row memiliki ruang terbuka yang lebih luas dibandingkan dengan sistem tanam single row. Sehingga memungkinkan invasi gulma yang lebih cepat dan lebih banyak yang mampu menurunkan hasil panen yang disebabkan oleh adanya persaingan terhadap gulma. Gulma yang paling banyak tumbuh pada sistem jarak tanam double row adalah varietas lokal malang dengan bobot kering 144,67g dan pada jarak tanam single row 260g.

Daun merupakan organ fotosintetik utama dalam tubuh tanaman, di mana terjadi proses perubahan energi cahaya menjadi energi kimia dan mengakumulasikan dalam bentuk bahan kering.  Dalam analisis pertumbuhan, perkembangan daun menjadi perhatian utama.  Berbagai ukuran dapat digunakan, seperti pengukuran indeks luas daun, nisbah luas daun dan nisbah berat daun pada waktu tertentu.  Perubahan-perubahan selama pertumbuhan mencerminkan perubahan bagian yang aktif berfotosintetsis.

Berbagai ukuran dapat digunakan untuk mengetahui laju pertumbuhan tanaman dengan cara membandingkan bobot bahan kering dan luas daun tanaman dari waktu ke waktu.  Dengan memperhatikan luas daun dan bobot kering dapat diukur laju asimilasi neto.  Dengan hanya memperhatikan bobot kering tanaman dapat dikur laju tumbuh pertanaman dan laju pertumbuhan relatif (Leopold dan Kriedermann, 1975).  Analisis tumbuh tanaman digunakan untuk memperoleh ukuran kuantitatif dalam mengikuti dan membandingkan pertumbuhan tanaman, dalam aspek fisiologis maupun ekologis, baik secara individu maupun pertanaman.

Dilihat dari  ILD paling besar pada jarak tanam single row adalah local malang 197,131 tanggamus 119,025 anjasmoro 106,006 cikurai 89,908 dan yang paling rendah adalah varietas ceneng dengan 81,403. Percobaan dengan jarak tanam double row yang paling baik adalah varietas tanggamus dengan ILD 266,462, anjasmoro 183,081 lokal malang 125,321 ceneng 68,518 dan cikurai dengan ILD 65,697.

Rhizobium merupakan kelompok bakteri berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Bila bersimbiosis dengan tanaman legum, kelompok bakteri ini menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar. Bintil akar berfungsi mengambil nitrogen di atmosfer dan menyalurkannya sebagai unsur hara yang diperlukan tanaman. Bobot kering bintil akar yang paling berat adalah varietas tanggamus dan lokal malang 0,12 g pada sistem jarak tanam single row, sedangkan pada sistem jarak tanam doble row yang paling berat adalah varietas lokal malang dengan bobot kering 0,37 g.

Hama dan penyakit seringkali mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu, bahkan dapat menggagalkan terwujudnya produksi. Hama yang merusak tanaman bisa disebabkan oleh hewan dari kelas rendah sampai dengan hewan kelas tinggi (mamalia). Sedangkan penyakit tumbuhan disebabkan oleh bakteri dan jamur. Kekurangan hara pun termasuk golongan penyakit. Percobaan kali ini varietas anjasmoro menunjukkan kerentanannya terhadap hama dan penyakit, karena dari 3 mst sudah mulai muncul gejala serangan  hama dan penyakit dan pada 4 MST gejalanya lebih terlihat lagi. Varietas cikurai mulai menunjukkan gejala hama dan penyakit pada 4 MST sedangkan ketiga varietas yang lainnya tidak menunjukkan gejala serangan hama dan penyakit.

  Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan di petak percobaan yang berukuran 5m x 4m baik yang single row maupun yang double row terdapat gulma yang dominan yaitu Cleome rutidosperma dan Portulacca oleraceae. Gulma yang paling banyak tumbuh pada sistem jarak tanam double row adalah varietas lokal malang dengan bobot kering 144,67g dan pada jarak tanam single row 260g. Hal ini dikarenakan sistem tanam double row memiliki ruang terbuka yang lebih luas dibandingkan dengan sistem tanam single row. Sehingga memungkinkan invasi gulma yang lebih cepat dan lebih banyak yang mampu menurunkan hasil panen yang disebabkan oleh adanya persaingan terhadap gulma. ILD paling besar pada jarak tanam single row adalah local malang 197,131 tanggamus 119,025 anjasmoro 106,006 cikurai 89,908 dan yang paling rendah adalah varietas ceneng dengan 81,403. Percobaan dengan jarak tanam double row yang paling baik adalah varietas tanggamus dengan ILD 266,462, anjasmoro 183,081 lokal malang 125,321 ceneng 68,518 dan cikurai dengan ILD 65,697. Bobot kering bintil akar yang paling berat adalah varietas tanggamus dan lokal malang 0,12 g pada sistem jarak tanam single row, sedangkan pada sistem jarak tanam doble row yang paling berat adalah varietas lokal malang dengan bobot kering 0,37 g.

Percobaan kali ini varietas anjasmoro menunjukkan kerentanannya terhadap hama dan penyakit, karena dari 3 mst sudah mulai muncul gejala serangan  hama dan penyakit dan pada 4 MST gejalanya lebih terlihat lagi. Varietas cikurai mulai menunjukkan gejala hama dan penyakit pada 4 MST sedangkan ketiga varietas yang lainnya tidak menunjukkan gejala serangan hama dan penyakit.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 in Ekologi Tanaman

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: