RSS

Faktor Pengaruh Kompos

21 Sep

Kompos adalah bentuk akhir dari bahan organik setelah mengalami pembusukan, dekomposisi melalui proses biologis yang dapat berlangsung secara aerobik dan anerobik. Adapun prinsip dari suatu pengomposan yaitu menurunkan C/N rasio bahan organik (Deptan, 2008). Dengan demikian semakin tinggi C/N rasio bahan maka proses pengomposan akan semakin lama. adapun hal-hal yang mempengaruhi proses pengomposan, yaitu:

  1. Rasio C/N

Dalam melakukan dekomposisi bahan organik mikroorganismememerlukan sejumlah nitrogen dan karbon untuk pertumbuhannya, jumlahoptimal nitrogen yang dibutuhkan mikroorganisme bervariasi sesuai dengan jenis substrat  dan mikroorganisme itu sendiri. Besarnya perbandingan C/N optimumuntuk pengomposan adalah 22-35. Sedangkan rasio C/N yang disarankan pada awal pengomposan adalah 20-40.

  1. Tinggi tumpukan

Dalam tumpukan mikroorganisme melakukan aktivitas yang menimbulkanenergi dalam bentuk panas. Sebagian panas akan tersimpan dalam tumpukan dansebagian lainnya digunakan untuk proses penguapan atau terlepas ke lingkungansekitar. Semakin besar tumpukan, semakin besar tumpukan, semakin tinggi dayaisolasinya sehingga panasyang dihasilkan dalam tumpukan semakain sulit terlepasdan suhu tumpukan menjadi lebih panas, tumpukan bahan yang terlalu rendahakan membuat bahan lebih cepat kehilangan panas sehingga temperatur yang   lebih tinggi tidak bisa dicapai. Selain itu, mikroorganisme patogen tidak akan matidan proses dekomposisi oleh mikroorgsnisme termofilik tidak akan tercapai.Ketinggian tumpukan yang baik dari berbagai jenis bahan adalah 1-1,2 m, dantinggi maksium 1,5-1,8 m.

  1. Kelembaban dan Oksigen

Kelembapan yang ideal antara 40 %- 60 % dengan tingkat yang terbaik adalah 50 %, kisaran ini harus dipertahankan untuk memperoleh jumlah populasi jasad renik yang terbesar. Karena semakin besar jumlah populasi jasad pembusuk,berarti semakin cepat proses pembusukan. Jika tumpukan terlalu lembab maka proses pengomposan akan terhambat (Rizky, 2008).

  1. Suhu

Untuk tumpukan kisaran ideal adalah 55o -65o dengansuhu minimum 45o selama proses pengomposan. Kondisi temperatur tersebut juga diperlukan untuk peroses inaktivasi dari bakteri patogen (Riyo, 2006)

Kompos memiliki keuntungan yaitu memperbaiki produktivitas tanah, mengurangi pencamaran lingkungan, dan meningkatkan kesuburan tanah. Dalam memperbaiki produktivitas tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologi. Hal ini dapat memperbaiki struktur, tekstur, dan lapisan tanah sehingga akan memperbaiki keadaan aerasi , drainase, dan kemampuan daya serap tanah terhadap air, serta berguna untuk mengendalikan erosi tanah ( Djuarnani, 2006). Pada proses pembuatan kompos, langkah awal yang dilakukan adalah mencacah jerami padi, kemudian menyiapkan pupuk kandang yang sudah di larutkan ke dalam air, kapur tohor. Selain menggunakan pupuk kandang, dapat menggunakan Effective Micro-organism 4 (EM4). Effective Micro-organism 4 (EM4) adalah bahan yang mengandung beberapa mikroorganisme yang sangat bermanfaat dalam proses pengomposan. Mikroorganisme yang terdapat dalam EM4 terdiri dari beberapa mikroba, sepertimikroba lignolitik, selulotik, proteulitik, nitrogen fiksasi non siliotik, Lubricus(bakteri asam laktat) serta sedikit bakteri fotosintesis, Acanomycetes,Streptomyces sp., jamur fermentasi, dan ragi yang dapat digunakan sebagaiinokulan untuk meningkatkan keragaman mikroba tanah dan dapat memperbaikikesehatan serta kualitas tanah. Adapun Keunggulan penggunaan teknologi EM4 adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. Selain itu, EM4 dapat menekan perutmbuhan patogen tanah, mempercepat fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan unsur hara dan senyawa organik pada tanaman, dan dapt menghilangkan bau tidak sedap pada limbah yang akan dijadikan kompos.

DAFTAR PUSTAKA

[Deptan] Departemen Pertanian. 2008. Pupuk Kompos Untuk Meningkatkan Produksi Padi Sawah. [Internet]. [diunduh 2012 Desember 02]. Tersedia pada: http://www.deptan.go.id

Djuarnani Nan. 2006. Cara Cepat Membuat Kompos. Jakarta (ID): Agromedia Pustaka.

Rizaldi Rizky. 2008. Pengelolaan Sampah Secara Terpadu di Perumahan Dayu Permai. [Skripsi]. Yogyakarta         (ID): Universitas Islam Indonesia.

Samekto Riyo. 2006. Pupuk Kompos. Yogyakarta: Citra Aji Parama.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 21, 2013 in Ekologi Tanaman

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: