RSS

Pemupukan Nitrogen pada Tanaman Jagung

25 Feb

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam pemupukan terdapat beberapa prinsip dasar yang harus dipertimbangkan yaitu jenis dan dosis pupuk yang akan diberikan, waktu pemberian pupuk, dan teknik pemberian pupuk. Jenis dan dosis pupuk akan menentukan jenis dan jumlah hara yang terkandung di dalam pupuk tersebut. Waktu pemberian pupuk akan menentukan ketepatan waktu antara ketersedianan pupuk dan penggunaan pupuk oleh tanaman, berarti menentukan efisiensi pemupukan. Teknik pemberian pupuk harus memugkinkan akar tanaman dapat dengan mudah menyerap pupuk yang diberikan, memperkecil tingkat kehilangan pupuk oleh penguapan dan pencucian sehingga pupuk lebih banyak tersedia bagi tanaman, dan mudah dikerjakan baik secara manual maupun mekanis.

Pupuk sebagai pembawa hara bagi tanaman, tersedia di pasaran dengan berbagai nama dagang seperti Urea, ZA, TSP, SP-18, KCl, Phonska, GP-20, dan aneka pupuk majemuk lainnya yang memiliki jenis dan kandungan unsur hara yang berbeda. Akan tetapi, pupuk utama yang diberikan pada tanaman pangan, termasuk jagung di daerah tropik adalah pupuk yang mengandung hara yang seringkali dijumpai mengalami kekahatan yaitu nitrogen (N), fosfor (P2O5), dan kalium (K2O). Dosis pupuk yang perlu diberikan pada tanaman disesuaikan dengan kebutuhan tanaman agar tanaman mampu tumbuh dan berproduksi normal di lapangan, yaitu di awal dan menjelang akhir pertumbuhan generatif. Pupuk dapat diberikan kepada tanaman melalui lubang yang dibuat dengan tugal, dekat dengan lubang/batang tanaman, melalui alur di samping kiri atau kanan barisan tanaman, atau dengan disebar langsung secara merata pada kondisi tanah yang macak-macak, khususnya untuk padi sawah.

Hara N bagi tanaman bersumber dari bahan organik tanah, dari residu tanaman atau penambahan pupuk organik, pupuk anorganik yang mengandung N dalam bentuk nitrit (NO3) atau ammonium (NH4+), dan gas N dalam atmosfer yang dapat di fiksasi oleh tanaman polongan yang bersimbiosis dengan Rhizobium.

1.2  Tujuan

  1. Mahasiswa mendapat pengalaman menanam jagung.
  2. Mahasiswa dapat menentukan kebutuhan berbagai jenis pupuk untuk tanaman jagung.
  3. Mahasiswa dapat membandingkan pertumbuhan dan produksi dua varietas jagung yang dipupuk nitrogen dengan dosis yang berbeda.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Tanaman jagung

Jagung (Zea mays L.) merupakan makanan pokok dan potensial mensubstitusi tanaman padi, memiliki prospek yang cerah untuk diusahakan. Ratusan juta populasi ternak unggas membutuhkan jagung ribuan ton. Pada umumnya jagung dimanfaatkan untuk pakan ternak, dibuat tepung, dan bahan baku industry (Hartono, 2007). Jagung yang dimanfaatkan  untuk pakan ternak adalah jagung dengan jenis hibrida. Jagung berasal dari daerah Amerika Tengah. Jagung budidaya merupakan keturunan langsung dari teosinte.

Jagung merupakan tanaman semusim yang terdiri dari fase pertumbuhan vegetatif dan generatif. Akar jagung tergolong akar serabut. Permukaan daun ada yang licin dan ada pula yang kasar, yang lebih tepatnya adalah berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter yang dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas yang berperan dalam menanggapi defisit air pada sel-sel daun.

2.2 Tanah dan Iklim

Tanah yang baik untuk bertanam jagung adalah yang bertekstur lempung, lempung berdebu, atau lempung berpasir. Struktur tanah yang gembur dan kaya bahan organik. Derajat keasaman (pH) 5,5-7,6 dan pH optimal 6,8 (Martodireso, 2001). Keadaan iklim di daerah yang akan dijadikan lahan untuk bertanam jagung memiliki curah hujan 100-200 mm/bulan dengan penyerapan merata, intensitas sinar 100%,temperatur 130C-38oC. suhu optimum 24oC-30oC. tinggi tempat 0-1300 m dpl dan tipe A-E oldeman (Martodireso, 2001). Tanaman jagung dapat tumbuh baik pada tanah dengan struktur remah, aerasi dan drainase baik, cukup air, dan kaya hara.

2.3 Peran pupuk Nitrogen

Nitrogen merupakan kunci utama untuk meningkatkan produksi tanaman jagung. Penambahan unsur P dan K bersama dengan Nitrogen akan memberikan hasil yang baik. Menurut Geus (1973), pemupukan Nitrogen dapat mempercepat pertumbuhan dan pembentukan akar-akar dan mendorong pertumbuhan tanaman muda. Akan tetapi, kelebihan Nitrogen juga tidak baik, karena dapat menghambat waktu masaknya tanaman, melemahkan batang tanaman, dan lebih peka terhadap penyakit. Defisiensi N menyebabkan kecepatan pertumbuhan sangat terganggu dan tanaman nampak kurus kering. N merupakan unsure dalam molekul klorofil sehingga defisiensi N mengakibatkan daun menguning atau mengalami klorosis (Samekto, 2008).

2.4 Hama dan penyakit yang menyerang tanaman jagung

a. Hama

  1. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)

Gejalanya, yaitu daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang membusuk, akhirnya tanaman menjadi layu dan kerdil, lalu mati.

  1. Ulat Pemotong (Contoh : Agrotis ipsilon, Spodoptera litura)

Gejalanya, yaitu tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman menjadi roboh.

b. Penyakit

  1. Penyakit bulai (Downy mildew)

Gejalanya, yaitu umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih, umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi, pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Penyebabnya adalah cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis.

2. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)

Gejalanya, yaitu: pada daun tampak bercak berwarna kuning dikelilingi warna coklat, bercak meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, lalu coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Penyebabnya adalah cendawan Helminthosporium turcicum.

3.Penyakit karat (Rust)

Gejalanya, yaitu pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan. Penyebabnya adalah cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw.

2. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji

Gejalanya, yaitu biji jagung berwarna merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang.Penyebabnya adalah cendawan Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.

BAB III METODE PELAKSANAAN

 

3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum Dasar-Dasar Agronomi ini dilaksanakan setiap hari Jumat mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB, bertempat di Kebun Percobaan Leuwikopo.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan dalam praktikum, antara lain benih jagung (varietas hibrida dan bersari bebas), pupuk Urea (45% N), pupuk SP-36 (36 % P2O5), dan pupuk KCL (60% K2O), insektisida butiran (Furadan), dan insektisida cairan (Decis, Matador), dan fungisida (Antracol, Dithane).

Alat yang diperlukan dalam praktikum, antara lain cangkul, kored, tali rafia, tugal, meteran, ember, label percobaan, ajir contoh, dan timbangan.

3.3 Pelaksanaan

Sebelum dilakukan penanaman, lahan berukuran 10mx7,5m harus dibersihkan dan digemburkan agar mudah ditanami. Setelah itu berlanjut ke proses penanaman.

Pertama-tama, persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, seperti cangkul, kored, tali rafia, tugal, meteran, ember, label percobaan, ajir contoh, benih jagung, pupuk urea, SP-36, dan KCl. Selanjutnya pancangkan ajir di empat sudut lahan. Ikatkan tali rafia pada ajir tersebut, sesuaikan dengan jarak tanam jagung, yaitu 80cmx20cm. Satu hal yang perlu diperhatikan, jarak tanam untuk barisan pinggir adalah setengah dari jarak tanam yang digunakan. Buat lubang tanam menggunakan tugal dengan mengikuti jarak yang ada pada tali rafia. Selesai membuat lubang tanam, buatlah alur pupuk. Alur pupuk dibuat pada jarak sekitar 5-7 cm dari lubang tanam dengan kedalaman 6-7 cm. Setelah persiapan lahan selesai, letakkan satu benih di satu lubang bersama dengan 5 butir Furadan. Demikian juga dengan pupuk yang telah dicampur rata sebelumnya (urea, SP-18, dan KCl) ditaburkan di alur pupuk. Semuanya diberikan dengan dosis yang telah ditentukan. Setelah selesai, tutup kembali lubang benih dan alur pupuk. Tancapkan label sebagai penanda.

Pada 1 MST dilakukan pemeliharaan dan penyulaman benih yang mati. Namun berhubung pada 1 dan 2  MST adalah libur akademik, maka semuanya dilakukan oleh pegawai kebun. Minggu-minggu selanjutnya terus dilakukan pemeliharaan yang meliputi penyiangan, penggemburan tanah, dan pembumbunan. Tidak lupa juga dilakukan pemupukan kedua dan pemberian insektisida dan fungisida (3 MST), serta pembuatan saluran air di sekeliling lahan.

Selain pemeliharaan dilakukan juga pengamatan tanaman, mulai dari penghitungan daya tumbuh (1 MST) dan pemilihan sepuluh tanaman contoh secara acak (3 MST). Setiap minggunya dilakukan pengukuran tinggi tanaman dan jumlah helai daun sampai munculnya tassel sebanyak 75 % dari populasi. Untuk penghitungan luas daun setiap tanaman menggunakan metode gravimetric (6MST).

Pemanenan dilakukan pada 11 MST. Semua tanaman dipanen kecuali tanaman barisan pinggir. Pertama-tama cabut sepuluh tanaman contoh, timbang bobot tongkol berkelobot, bobot brangkasan (akar, batang, dan helai daun), dan bobot tongkol tanpa kelobot (siap dipasarkan). Hitung indeks panen. Selanjutnya ukur panjang dan lingkar tongkol tanpa kelobot.Hitung juga panjang tongkol berbiji. Untuk tanaman jagung lainnya ditebang pada batangnya, diambil tongkolnya dan ditimbang.

Perlakuan

(1)   J1N1 = Jagung hibrida ( P12 )dengan dosis 90 kg N/ha

(2)   J1N2 = Jagung hibrida ( P12) dengan dosis 135 kg N/ha

(3)   J2N1 = Jagung bersari bebas ( BISMA ) dengan dosis 90 kg N/ha

(4)   J2N2 = Jagung bersari bebas ( BISMA ) dengan dosis 135 kg N/ha

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil dan Pembahasan

Pertumbuhan Vegetatif

Pada percobaan ini tanaman yang digunakan adalah jagung dengan varietas Bisma. Pada percobaan diterapkan dua perlakuan yang berbeda yaitu, dosis pupuk dan varietas yang berbeda. Dosis pupuk yang digunakan adalah 90 kg N/ha. Sedangkan varietas Jagung yang digunakan ada dua varietas, yaitu varietas P12 dan Bisma. Setiap varietas Jagung memiliki karakteristik pertumbuhan dan produksi yang berbeda, oleh karena itu dilakukan pengamatan terhadap beberapa unsur. Secara garis besar, pengamatan percobaan terbagi dua, yakni pengamatan tiap minggu dan panen. Pengamatan pada 10 sampel tanaman Jagung dilakukan setiap minggu, dimulai dari 3 MST hingga 7 MST. Hal ini disebaabkan karena pada saat 8 MST pada umumnya bunga Jantan sudah mulai muncul. Jadi tidak dilakukan pengamatan pada 10 sampel. Di bawah ini akan disajikan data rata-rata tinggi tanaman pada dua varietas jaung.

Tabel 1 Rata-rata Tinggi Tanaman Dua Varietas Jagung

MST

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

1

2

3

55.28

80.61

52.41

47.4

4

90.59

97.8

82.64

113.95

5

150.8

131.74

134.1

156.35

6

201.6

175.68

148

196.3

7

226.5

205.25

224.6

216.4

Grafik 1 Rata-rata Tinggi Tanaman Dua Varietas Jagung

Pada saat tanaman mulai berusia 3 MST,  dilakukan pengukuran terhadap tinggi tanaman,jumlah daun, dan lingkar batang.                               Data tinggi tanaman Jagung pada tabel diatas menjelaskan bahwa semua tipe percobaan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pertumbuhan pada 3MST tipe J1N2 lebih pesat dari J2N2. J1N1 pun memiliki tinggi yang lebih pesat pada 7MST. Hal ini menjelaskan bahwa varietas P12 lebih unggul dalam pertumbuhan tanaman dibandingkan varietas  Bisma, serta pada 7MST dosis pupuk dengan 90 kg N/ha memiliki tinggi yang signifikan dibanding dosis pupuk 135kg N/ha.

Hasil yang akan di sajikan data rata-rata jumlah daun pada dua varietas jagung.

Tabel 2 Rata-rata Jumlah Daun Dua Varietas Jagung

MST

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

1

2

3

4.6

7

5.1

5.5

4

6.1

8

6.1

6.11

5

7.5

10

6.9

6.4

6

8.9

9

7.5

8.4

7

12.3

11

9.4

11

Grafik 2 Ratarata Jumlah Daun Dua Varietas Jagung

Pada data diatas menjelaskan tentang jumlah daun pada tanaman Jagung. Pada J1N2, jumlah daun dari 3MST hingga 5 MST relatif meningkat. Namun pada saat 7MST, J1N1 memiliki jumlah daun yang relatif meningkat dibanding J1N2,J2N1, dan J2N2.

Hasil yang  akan disajikan adalah data rata-rata lingkar batang dua varietas jagung.

Tabel 3 Rata-rataLingkar Batang Dua Varietas Jagung

MST

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

1

2

3

4.14

5.27

2.69

3.55

4

6.05

6.32

4.88

6.8

5

8.05

6.79

6.95

7.73

6

8.53

6.92

7.02

7.89

7

9.24

7.48

7.79

8.56

Grafik 3 Rata-rata Lingkar Batang Dua Varietas Jagung

Pada gragik 3 menjelaskan bahwa lingkar batang pada 3MST dan 4MST, J1N2 memiliki lingkar batang yang relative meningkat disbanding J2N1. Pada 5MST,6MST, dan 7MST J1N1 yang memiliki lingkar batang relatif meningkat dibandingkan J1N2,J2N1, dan J2N2.

Hasil yang  akan disajikan adalah data daya tumbuh kecambah dari masing-masing varietas dan perlakuannya.

Tabel 4 Daya tumbuh kecambah

J1N1 J1N2 J2N1 J2N2
Daya tumbuh kecambah

86.62%

94.12%

87.10%

97.06%

Yang tumbuh

396

352

366

363

Yang disulam

53

22

54

374

Grafik 4 Daya tumbuh kecambah

Menurut data pada grafik 4 menunjukkan bahwa daya tumbuh kecambah terbesar adalah pada J2N2 dan yang terendah adalah pada J1N1.

Hasil dan Produksi

Tabel 5 Rata-rata bobot tongkol berkelobot

Komponen Hasil dan Produksi

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

Rata-rata bobot tongkol berkelobot (kg)

0.338

0.31

0.276

0.304

Berikut akan di sajikan data pada hasil dan produksi jagung dengan varietas P12 dan bisma. Dibawah ini akan disajikan data rata-rata bobot tongkol berkelobot

Grafik 5 Rata-rata bobot tongkol berkelobot

Pada grafik 5 menjelaskan bahwa rata-rata bobot tongkol berkelobot. Pada J1N1 memiliki rata-rata bobot tanpa kelobot yang paling meningkat dibanding J2N1,J1N1, dan J2N2.

Hasil yang  akan disajikan adalah data rata-rata bobot brangkasan masing-masing varietas.

Tabel 6 Rata-rata Bobot Brangkasan

Komponen Hasil dan Produksi

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

Rata-rata Bobot brangkasan (kg)

7.1

0.633

0.593

0.443

Grafik  6 Rata-rata Bobot Brangkasan

Pada grafik 6 menjelaskan bahwa rata-rata bobot brangkasan tiap dua varietas. Terlihat bahwa pada J1N1 rata-rata bobot brangkasan memiliki nilai yang relative tinggi. Dan J2N2 memiliki rata-rata bobot brangkasan yang paling kecil dibanding J1N2, dan J2N1 .

Hasil yang  akan disajikan adalah data rata-rata bobot tongkol siap dipasarkan  dua varietas jagung.

Tabel 7 Rata-rata bobot tongkol siap dipasarkan

Komponen Hasil dan Produksi

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

Rata-rata Bobot tongkol siap dipasarkan (kg)

3.098

0.3

0.249

0.3025

Grafik 7 Rata-rata bobot tongkol siap dipasarkan

Pada grafik 7 menjelaskan bahwa rata-rata tongkol yang siap dipasarkan masing-masing varietas. Terlihat bahwa rata-rata bobot tongkol siap dipasarkan J1N1 memiliki rata-rata bobot yang relative lebih tinggi dibanding J2N1.

Hasil yang  akan disajikan adalah data rata-rata bobot tongkol tanpa kelobot dua varietas jagung.

Tabel 8 Rata-rata bobot tongkol tanpa kelobot

Komponen Hasil dan Produksi

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

Rata-rata Bobot tongkol tanpa kelobot (kg)

2.06

0.27

0.172

0.18

Grafik  8 Rata-rata bobot tongkol tanpa kelobot

Pada grafik 8 menjelaskan bahwa rata-rata bobot tongkol tanpa kelobot masing-masing varietas. Hal ini menunjukkan bahwa J1N1 memiliki rata-rata bobot tongkol tanpa kelobot yang paling meningkat disbanding J2N1,J1N2, dan J2N2.

Hasil yang  akan disajikan adalah data rata-rata lingkar tongkol tanpa kelobot dua varietas jagung.

Tabel 9 Rata-rata Lingkar tongkol tanpa kelobot

Komponen Hasil dan Produksi

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

Rata-rata Lingkar tongkol (cm) tanpa kelobot

14.33

12.3

13.54

13.64

Grafik  9 Rata-rata Lingkar tongkol tanpa kelobot

Pada grafik 9 menunjukkan rata-rata lingkar tongkol tanpa kelobot tiap varietas. Terlihat bahwa J1N1 memiliki rata-rata lingkar tongkol yang paling tinggi. Sedangkan yang paling rendah rata-rata lingkar tongkol tanpa kelobot adalah J1N2.

Hasil yang  akan disajikan adalah data rata-rata panjang tongkol tanpa kelobot dua varietas jagung.

Tabel 10 Rata-rata panjang tongkol tanpa kelobot

Komponen Hasil dan Produksi

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

Rata-rata Panjang tongkol (cm) tanpa kelobot

22.09

17.55

14.74

16.7

Grafik 10 Rata-rata panjang tongkol tanpa kelobot

Pada grafik 10 menunjukkan rata-rata panjang tongkol tanpa kelobot tiap varietas. Pada J1N1 memiliki rata-rata panjang tongkol tanpa kelobot yang relative meningkat dibanding J2N1.

Hasil yang  akan disajikan adalah data rata-rata panjang tongkol berbiji   dua varietas jagung.

Tabel 11 Rata-rata panjang tongkol berbiji

Komponen Hasil dan Produksi

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

Rata-rata Panjang tongkol berbiji (cm)

17.03

15.4

12.5

14

Grafik 11 Rata-rata panjang tongkol berbiji

Berdasarkan hasil grafik 11 mengenai rata-rata panjang tongkol berniji masing-masing kelompok adalah J1N1 memiliki rata-rata panjang tongkkol berbiji yang relatif tinggi, dan yang terendah adalah J2N1.

Hasil yang  akan disajikan adalah data jumlah tongkol dua varietas jagung.

Tabel 12 Jumlah Tongkol

Komponen Hasil dan Produksi

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

Jumlah tongkol ( buah )

10

12

10

10

Grafik 12 Jumlah Tongkol

Berdasarkan data yang tertera pada grafik 12 terlihat bahwa jumlah tongkol terbanyak yaitu pada J1N2.

Hasil yang  akan disajikan adalah indeks panen dua varietas jagung.

Tabel 13 Indeks Panen Dua Varietas Jagung

J1N1 J1N2 J2N1 J2N2
Indeks Panen

0.476

0.4897

0.465

0.686

Grafik 13 Indeks Panen Dua Varietas Jagung

            Bedasarkan data yang dihasilkan pada grafik 13 menjelaskan bahwa indeks panen tertinggi berada pada J2N2, dan terendah adalah J2N1.

Hasil yang  akan disajikan adalah data rata-rata indeks luas daun dua varietas jagung.

Tabel 14 Indeks Luas Daun pada dua varietas Jagung

J1N1 J1N2 J2N1 J2N2
ILD

83.57

545,02

77.28

78.28

Grafik 14 Indeks Luas daun

Hasil yang  akan disajikan adalah data Hasil petak bersih dua varietas jagung.

Tabel 15 Hasil petak bersih

J1N1 J1N2 J2N1 J2N2
Hasil petak bersih (kg)

97.38

68.7

72

66.74

 

Grafik 15 Hasil petak bersih

Pertumbuhan Generatif

Tabel 16 Pertumbuhan Generatif tiap Kelompok

 

J1N1

J1N2

J2N1

J2N2

Jantan

56 HST

49 HST

56 HST

56 HST

Betina

63HST

56HST

63HST

63HST

Pada table 4 menjelaskan bahwa pertumbuhan generatif dari tiap kelompok adalah munculnya bunga jantan pada umumnya di 56HST dan 63HST untuk bunga betina. Akan tetapi berbeda dengan J1N2 yang 49HST suddah muncul bunga jantan, dan 56 HST muncul bunga betina.

DAFTAR PUSTAKA

 

Hartono, Rudi, dkk. 2007. Bertanam Jagung Unggul. Jakarta: Penebar Swadaya

Martodireso S, Widada AS. 2001. Terobosan Teknologi Pemupukan dalam Era Pertanian Organik. Yogyakarta : Kanisius

Samekto, Riyo. 2008. Pemupukan. Yogyakarta : Citra Aji Parama

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 25, 2012 in Dasgron

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: